Ini merupakan hari pertama di 2024. Senin. Berada di ruang kerja Pool Suci bersama komputer EDP. Setelah mengantar pulang istri di Ps. Rebo. Disini lah saya berada. Berusaha kembali menulis. Semoga bisa berjalan terus.
Hari ini saya sedih. Perkara sedang capek dengan kehidupan. Mungkin menuju burnout saja. Paska menikah, tidak ada waktu untuk bertele-tele dengan kerjaan karena semua menjadi serba banyak, padat dan cepat. Puji tuhan hari ini banyak yang diselesaikan. Tapi tidak menyelesaikan rasa capeknya.
Saya sekarang punya istri. Gila bukan? Hilang begitu lama, tiba tiba datang dengan kabar luar biasa. Sama, saya juga ga tau kok bisa saya memilih menikah. Pilihan besar ya.
Ternyata menikah memberi konsekuensi baru. Kayak ada harapan2 yang secara tiba2 datang. Bukan harapan, ekspektasi. Ekspektasi untuk ini itu. Dan saya dibuat kesal dengan ekspektasi itu.
Gapapa, saya lagi keos aja. Kepala saya kusut dikoyak emosi. Ternyata, saya masih bisa ngerasa sendirian.
Ga ada yang nyangka ternyata saya bakal balik lagi kesini. Entah ya, rasanya beda curhat dengan tampilan blog yang serba oren. Dibanding word atau drive. Rasanya seperti ada kedekatan emosional dengan layout yang satu ini.
Sepertinya saya sedang cape. Menjadi cape dan dalam mode survival terasa begitu iritable. Beneran saya paham kenapa begitu mudahnya kita semua tersinggung. Se simple cape. Kurang istirahat bikin kita ga punya perasaan pegang kendali. Perasaan "semuanya bikin ruwet" yang jadi sumber tipisnya sabar.
Bisa dibilang, mungkin saya juga jadi bagian dari masalah. Sakit lalu menyakiti. Tapi sejujurnya saya merasa ga di support oleh siapapun skrg. Cuman jadi bagian "menyenangkan pihak lain" agar bisa bermanfaat tanpa bergantung dengan orang lain itu sejujurnya capek dan melelahkan.
Gapapa, hari ini saya sudah nulis kesini aja udah bagus. Saya seneng, bahwa diantara tempat - tempat jujur yang katanya menenangkan, cuman gerobak ini yang bisa jadi curahan hati saya. Makasih ya, mau jadi kertas yang siap diapain aja,
Ditanya ke tasik kapan, saat semuanya tau saya sebenernya males datang kesana. Hmmm. Entah ya. Hari ini saya ada kesel, marah, sedih, bete, linglung. Disuruh datang ke nikahan anak selingkuhan. Karena dia dikawinin dulua. Pas ditanya kenapa ga mau? saya cuman jawab " karena ga mau aja gatau ya". Lalu semerta - merta saya disebut lemah, baperan, tidak bisa menangani kerasnya hidup. Kalau skala keluarga saja gagal, apalagi skala yang lebih besar. Dirasa jauh antara anak dengan bapak. Tapi saya sendiri sejujurnya memang tidak mau seperti dia.
Siapa yang mau hidup dengan orang yang merasa bekerja untuk keluarga, tetapi kerjaanya hanya marah, dan menuntut. Entah ya, saya ga pernah merasa punya empati ke orang itu. Saya sebenernya rada ga peduli sih dia mau ngomong apa. Yang saya bingung, gimana saya kedepannya. Di kantor, perusahaan ini, dia adalah orang berkuasa. Jangankan saya, bawahannya kalau disuruh interogasi saya juga akan dilakukan. Tidak ada yang bisa dilakukan disini. Saya harus cari jalan hidup sendiri.
Mungkin itu satu - satunya cara agar menjadi kuat, mandiri dan bisa bertahan di dunia yang keras ini.
Hari ini rasanya kerja capek banget. Bangun subuh, lalu tidur lagi. Namun keadaan tidak sepenuhnya istirahat karena, saya ga bawa baju tidur sama sekali. Padahal, sebelumnya melewati perjalanan sejauh 60km untuk mengambil tanggung jawab 2 markas sekaligus. Ya, saya ditugaskan untuk memegang 2 pool sekaligus. Dan salah satunya, harus saya pantau seminggu sekali karena jaraknya yang jauh.
Setelah kembali ke pool asal dan lagi - lagi kembali bekerja. Justru saya jadi teringat kejadian itu. Rasa sakit yang masih terasa. Perasaan inferior karena merasa kecil. Yang sedihnya semakin terasa mulai masuk ke dalam core believe. Sejujurnya saya takut, bagaimana kalau ternyata, saya mulai percaya secara penuh bahwa saya orang kecil yang tak berarti? Padahal sekian lama saya membangun trek untuk karir pribadi lebih baik. Tapi hancur saja seketika dan tidak membaik hingga hari ini.
Kejadian itu benar - benar merenggut diri saya secara utuh. Mungkin pada akhirnya saya mengerti apa arti insecure yang sesungguhnya. Yaitu perasaan tidak aman terhadap diri karena orang lain. Tidak aman karena tau akan mudah ditinggal, digantikan, kecil, tak berarti. Dan sampai saat ini, saya belum bisa keluar dari perasaan itu dengan kembali menjadi saya yang percaya diri. Ditambah, seperti ada dorongan dari banyak orang yang mengingatkan, bahwa orang - orang dengan insekuriti adalah red flag besar yang wajib dilewati. Mungkin saya adalah salah satunya. Pria yang tak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Dan yang paling mengecewakan adalah, saya ga melihat ada aksi nyata dari dia. Orang yang menyakiti diri dan saya hanya karena dia menjadi dia. Dia bisa mendapatkan seluruh hal baik, dan saya disini tergeletak hancur tak disembuhkan dengan usahanya. Saya ga lihat ada pendekatan yang benar - benar niat untuk saya. Mungkin dia cape bekerja, cape mengurus rumah, atau cape hal - hal lainnya. Tapi yasudah, mungkin memang saya ini remeh. Entah ya, akhir akhir ini lingkungan saya seperti memberi tanda alam. Yang sejujurnya saya ga paham. Semua orang disekitar saya bilang, bahwa wanita yang punya gaji lebih besar, itu hanya ada dua kemungkinan, mengatur, atau diinjak. Entah ya, saya pusing hidup begini.
Saya cape sedih terus.
Malam tahun baru kali ini, terasa sangat berbeda. Kamu tau? Ada banyak rasa kesepian, tapi malam itu rasa sepinya benar - benar berbeda. Saat itu, saya berada di acara peresmian salah satu DPC partai di kota tasikmalaya. Acara dibuka pukul 20.00 namun orang - orang sudah ramai riuh berada di area DPC. Saya kesana bersama bapak, selingkuhannya, dan aki dari keluarga yang jauh. Saat saya sampai disana, banyak orang - orang kantor yang ternyata, diminta kesana juga. Jadi beberapa kali saya ngobrol kesana kemari untuk saling sapa.
Acara masuk, dihibur oleh musik dari penyanyi lokal yang suaranya cukup oke buat saya. Namun rasa - rasanya, agak berbeda. Entah mengapa, diantara keriuhan orang - orang yang saya kenal, perasaan "not belong" atau "tidak sepantasnya" itu muncul. Perasaan seperti kamu ga merasa pangsa pasar acara ini, namun kemanapun saya pergi, akan terasa sendirian. Di acara itu, walau sebagai tamu undangan, saya justru diam di stall kopi bersama OB yang saya anggap sangat baik dan pantas untuk saya bantu.
Selesai acara, justru yang terasa semakin masygul. Sesampainya dirumah, malah semakin sulit tidur. Cuman bisa duduk di meja dan merenung. Macam perasaan akan sedih saja. Semua orang punya hari yang menyenangkan. Hari yang indah untuk menjadi penutup tahun dan pembuka hari yang sangat baik. Yang, boleh dikatakan aku mau juga. Semua punya agendanya masing - masing. Dan saya justru menjadi orang yang tidak bahagia dengan agendanya sendiri.
Entahlah, saya cuman berdoa, tahun 2023 tidak seperti tahun sebelumnya. Diawali dengan keindahan yang dimana memberi semnagat hidup. Namun akhirnya justru membuat saya terperosok ke dalam lubang gelap nan licin.
Hari ini saya beberes buku. Cukup banyak rupanya. Ada sekitar 100 buku yang harus dirapihkan, dibersihkan, difoto dan diberi harga. Tujuan saya jelas diawal, buku - buku ini harus dibuang. Atau setidaknya, dijual agar terlihat lebih baik timbal baliknya. Saya ga mikir kemana atau diapain uangnya, karena goalnya bukan itu. Tapi cukup sampai hilangnya buku - buku ini dari muka. Jadi sedari pagi, saya mulai berkecimpung untuk berbenah buku.
Satu persatu buku dikeluarkan. Mulai dibersihkan, lalu difoto. Sembari itu, saya juga mulai memilah mana mana yang bagus, kurang bagus, bermutu, kurang mutu, dijual dan tak dijual. Beberapa buku hadiah dari teman tentu tak akan saya jual. Lalu buku - buku Suryomentaram dan kuliah sudah pasti saya simpan rapat. Lalu muncul dilema baru, Mana batasan yang mau saya jual dan mau saya simpan?
Kalau dihitung, sebenarnya betul prinsip pareto. hanya 20% dari 100 buku yang memang akan saya simpan dan berpengaruh dalam hidup saya. Beberapa sudah saya sebutkan, lalu ada buku tambahan yang akhirnya masuk brangkas. Pertama, Alkemis karya Paulo Coelho yang kalau boleh dibilang, adalah bentuk nyata tulisan dapat merubah orang. Minimal pandangan saya bahwa ternyata ada sedikit keinginan saya ingin menulis buku yang keren begini. Kedua, Human Universe by Brian Cox jadi penanda BBW saya pertama, Di buku ini saya belajar bahwa jadi prof ganteng dan mumpuni tuh bisa berjalan saling kelindan. Ketiga, Paper Engineer dan Papercraft Encyclopedia masuk dalam jajaran brangkas. Jawabannya simpel, Semales - malesnya saya, hobi saya ga pernah jauh dari kertas. Nulis, baca dan mainan semua dari kertas. Maka saya pastikan untuk hobi yang jarang saya sentuh ini, diberikan pada kertas dan segala kemungkinannya. Bergembira dengan Sains dari Hans Jurgen Press. Buku ini sebenenrnya bukan buku bacaan, tapi buku tentang sains dan praktik-praktik sederhana yang bisa dilakukan oleh anak kecil. Ditemukan saat saya SD kelas 5 di Perpustakaan sekolah. Dan menjadi satu satunya buku yang saya sesali tidak saya colong! Karena sampai saya SMA, saya masih suka datang ke perpus umum dan mencoba mengingat dan membeli buku yang buram judulnya karena hilangnya cover pada saat pertama kali saya pegang bukunya. Ternyata masih ada di dunia ini tersisa 3 eksemplar di internet. Beli 2 untuk saya kasih ke adek saya satu dan saya sendiri satu. Terakhir adalah buku - buku kumpulan cerpen kompas dari tahun 1992 - 2001. Kumcer ini saya cicil selama kuliah. Bisa dibilang, yang membuat minat baca saya tetap ada adalah strategi baca kumcer kala bosan. Dan banyak sedikitnya gaya bercerita dan menulis lahir dari kumcer2 tahun segitu. Saya suka cerita - cerita orang miskin. Penuh konflik, minim solusi, ketir tiada akhir. Hanya bisa tegar diantara sayatan hati yang pilu.
Lalu setelah selesai menulis seluruh harga untuk dijual, saya cukup kaget dengan berapa uang yang keluar untuk buku - buku ini. Karena menurut saya, uangnya tidak sedikit, dan ini menandakan bahwa saya cukup serius soal investasi leher keatas. Disitu saya mulai bimbang, haruskah saya lepas ini semua?
Saya akhirnya mencoba untuk berhenti sejenak dan motor-motoran dengan harapan ada angin yang menyegarkan pikiran. Setelah diusut, mungkin, dan mungkin saja, saya hanya sedang menyakiti diri sendiri. Saya berusaha memnbuang semua buku - buku ini karena, mereka yang membentuk 0 saya. Bisa menjadi +1,+2,-1,+1 dan sebagainya. Buku - buku ini adalah identitas diri dan ternyata, sangat berpengaruh dalam hidup saya. Walaupun pada dasarnya, hobi saya adalah membaca, namun terkadang, jumlah buku dan bukunya sendiri terkadang menjadi penanda apa apa yang sudah dibaca. Dan karena kesedihan yang mendalam, akan pencarian 0 itu, saya berusaha menghilangkan buku - buku ini. Dengan harapan, biarlah saya membentuk 0 yang baru. Menjadi Teguh yang seminus-minusnya, lalu menjadi 0. Starting point saat saya sudah diujung tanduk.
Tapi mungkin ini pertanda alam, banyaknya jumlah buku ternyata cukup bisa mengulur waktu saya. Sehingga dibikinnya saya untuk berpikir kembali, apakah ini adalah jalan yang benar. Apa saya masih pantas untuk terus menyakiti diri saat yang lain, mungkin telah mengepakan sayap untuk menjadi lebih baik dari diri mereka sebelumnya? Sehingga, hari ini nampaknya akan saya kembalikan buku ke rak - rak lagi. Sembari mengingat, bahwa hari ini, minimalnya saya tidak kembali minus.
Hari ini saya bengong di kantor. Ga ada alasan. Banyak waktu kosong dan kerjaannya tidak menuntut otak untuk ikut bermain. Sesekali tertidur di meja juga karena tidur larut malam.
Akhir - akhir ini sedang kepikiran untuk coba jurnaling. Dalam artian, menggunakan kertas dan pulpen. Diisi dengan hal - hal yang harusnya saya omongin tapi ga bisa tapi harus sebab bisa gila kalau engga tapi terlalu beresiko untuk dibicarakan dengan orang sembarang.
Tapi dipikir - pikir, blogging ini cukup mirip dengan metode yang sama. Sama - sama membanting perasaan pada medium lain. Dan aliran medium ini yang membantu mengeluarkan emosi - rasa yang terendap. Saya ga pernah mikir bahwa saya akan bener - bener fokus dikepenulisan. Apalagi, selama ini rasa senang saya dengan blog lebih ke teknikal web dan estetikanya. Tapi ternyata saya bisa menikmati tulis menulis dalam medium ini. Dan hebatnya, mendapat banyak manfaat di dalamnya. Saya sayang kamu buat orang yang membuat diri ini mau terus menulis. dan bukan hanya membaca, atau menggambar.
Beberapa waktu saya sempet mikir, mungkin masuk psikologi karena berobat jalan memang ide yang diamini dunia. Sebab banyak obat - obat yang saya butuhkan untuk menghadapi dunia yang kerasnya, berbeda dengan orang - orang yang merasa tau kerasnya dunia berdasarkan level mereka.
Mungkin, sudah saatnya saya menutup blog ini. Dari publik, karena selama ini promosi desain selalu saya sorot kesini. Sedang isinya semakin lama, semakin sentimentil. Semakin, saya. Entah, apakah ini hanya reptilian complex yang meraung bersama gelap yang menikmati ketidakeksisan diri dalam dunia ini. Atau mungkin, adalah saya itu sendiri.
Pagi ini bangun dengan kepala jangar dan tangan sakit - sakit. Sambil mencoba ngumpulkeun nyawa, saya coba duduk. Ketiga teman saya masih ada ternyata, dan dua diantaranya sudah bangun. Mungkin belum tidur lebih tepatnya. "Mau jekpot kayaknya nih" tutur saya. Tapi mungkin cuman feel saja. Maka saya paksakan beli bubur dan air kelapa. Baru beberapa jam setelah itu saya mulai kembali memiliki kesadaran walau badan masih bener - bener ga enak.
Malamnya, saya banyak mengacaukan diri dengan menghantam minum sekeras - kerasnya. Ingin saya nangis kencang - kencang sampai sudah tak ada urat malu. Nyatanya, bukan naik yang saya dapat justru pusing tak kepayang. Sial. Tapi yasudah, jujur sudah agak plong dibanding sebelumnya.
Mulai hari ini, saya akan kembali mencari null yang hilang diseret minus dan pengalaman.
Menjadikan blog ini sebagai media jurnaling itu ternyata menyenangkan. Disatu sisi, jadi tempat buang pikiran. Dilainnya, jadi wadah memori. When i draw this, i was feel so blue. I keep asking myself why its so hurt to love someone? Is it that worth keep loving person that only think ab them self? Yang pikirannya hanya memenuhi ego diri tentang kemegahan dan ketenaran? Saat merasa dirinya berada diatas angin, dan menatap jijik semua dibawahnya? Entah, semua yang datang dari sakit hati, hanya akan berkamuflase menjadi kekuatan. Yang didalamnya, menyakiti siapapun terdekatnya.
Tentang keberadaan angka 0 kerap kali disamakan dengan ketiadaan. Padahal, pencatatannya menandakan adanya identitas itu sendiri. Maka kosong adalah isi. Sedangkan nilai 0 itu sendiri, walau ada identitas tetap dinyatakan tidak bernilai atau kosong. Maka kosong adalah isi. 0 sering dipandang sebagai dasar awal, sebelum munculnya satu. Seperti bilangan biner, yang pilihannya adalah ada dan ada-ada.
Hidup-pun saya rasa begitu. Setiap orang berhak mendefinisikan nilai 0 nya masing - masing. Bahwasannya keberadaan ini menjadi identitas awal, kompas moral, berahi hidup, takdir, atau apalah mau kau sebut namanya. Yang jelas, 0 dalam diri masing - masing ini menjadi titik terendah penilaian atas apa yang kita nilai dalam hidup. Dan definisi ini sepanjang hayat akan naik turun mengikuti apa apa yang telah dilalui empunya nya.
Pandangan saya kini telah rabun. Bersebab, terakhir kali menengok 0, ia telah berubah nilai. Mungkin jadi -1, -2, atau -5. Entah apa yang terjadi. tetapi apa yang saya rasakan akhir - akhir ini nampak membabakbelurkan 0 yang terpaksanya ia berubah.
Saya percaya bahwa 0 yang saya buat sebelumnya, adalah 0 paling bijaksana yang pernah ada hingga umur saat ini. Tapi ternyata tetep koyak dimakan sakit hati.
Entah, saya cuma mau nulis apa yang dirasa. Sudah terlalu sering saya menyusahkan sahabat2 saya dengan emosi yang meluap2. Tak perlu mereka merasakan sampah emosi saya yang kian tak terbendung. Mungkin solusinya ada di manajemen emosi. Dan sampai itu belum terbentuk, saya tak mau mengganggu mereka2 yang telah berbaik hati mengusahakan untuk bersahabat dengan saya.
Sekarang saya paham, maksud tidak tervalidasinya perasaan. Dia ngeganjel dan tak kunjung membaur dengan waktu. Ga bisa memproses emosi itu rasanya bodoh. Sebab mau tidak dirasa, tetap ada. Dibiarkan malah jadi penyakit.
Entah ya. Ada sakit hati yang membuat saya merasa kecil dimuka bumi ini. Perasaan lama bahwa menjadi kecil, sendiri dan dingin adalah takdir saya yang tanpa dikejar, akan kembali menghampiri. Rasanya berat untuk menjadi positif untuk sepersekian detik soal hidup. Kadang kalau dipikir, lebih sedih lagi bahwa yang paling dekat pun tak akan menyembuhkan ini. Entah, mungkin saya bergitu mengasihani diri. Atau terlalu lemah. Yang jelas, sampai saat ini saya yang dulu sudah tak ada. Yang ada sekarang adalah saya yang bukan 0 dan akan menjadi 0 dan tak kembali menemui angka sesudahnya.
Pada musim dingin 208 sebelum masehi, tepatnya di tepi selatan Sungai Yang Tze, terjadi ketegangan yang mencekam. Komandan perang yang disinyalir akan menang mutlak, Cao Cao, sedang memantau 800.000 pasukan dengan perahu besar dan modern. Lawannya, adalah dua persekutuan antara Liu Bei dan Zhou Yu yang hanya memiliki 50.000 pasukan. Persaingan yang telak kalah jumlah, modal, posisi dan kemampuan pasukan perang. Tapi keahlian sang Menteri Militer persekutuan yang biasa dipanggil Kong Ming berhasil merubah cerita.
Di lain sisi, Baygon sebagai produsen semprotan anti nyamuk sedang dalam fase turun pendapatan. Adanya kompetitor baru yang canggih bikin pusing bagian product development. Bagian marketing, analis dan divisi lainnya menyatakan habis ide untuk rencana mengangkat sales ke depannya. Lalu salah satu bagian riset produk datang dengan masalah ga penting yang menyelamatkan perusahaan dari kemerosotan penjualan.
Epiktetus, Seneca dan Marcus Aurelius melalui pemikirannya, menyatakan bahwa menghawatirkan yang belum terjadi dan menyesali yang lewat hanya akan mempersulit hidup. Ide ini disepakati oleh Ki Ageng Suryomentaram dalam ajaran Kawruh Jiwa yang mengatakan bahwa dengan menjadi ada di sini dan sekarang adalah salah satu resep ketenangan. Menurutnya, bahwa dalam hidup tidak ada yang abadi kecuali siklus itu sendiri. Kadang bahagia kadang sengsara. Kadang mulur, kadang mungkret. Yang menariknya, beliau berkata sangat penting bagi kita untuk selalu mengolah rasa dengan terus memperhatikan gerak - gerik motivasi dalam diri. Dengan begitu manusia akan selalu bijak, yaitu dapat menyenangkan diri dan membuat orang disekitarnya tentram. Tapi bagaimana menjadi bijaksana?
Dalam upaya melawan Cao Cao, Kong Ming yang saat itu bertugas menjadi strategist koalisi tidak sekonyong menganalisis musuh. Alih alih menyusun strategi, justru yang pertama dia observasi adalah ketua kolisinya sendiri, Zhou Yu. Hasil Observasinya mengatakan bahwa Zhou Yu adalah ahli taktis perang di air dan seorang jendral yang memegang teguh prinsip keadilan. Kedua, Kong Ming memantau lokasi pertempuran dimana bahaya-bahaya yang mungkin terjadi. Saat dinyatakan dengan mutlak bahwa geografis merupakan kerugian pertama, justru insight yang dia temukan selama menjadi petani lah, yang membuatnya menang karena berhasil memprediksi angin dari timur. Penyebab utama kekalahan Cao Cao yang terkenal akibat terbakar dengan hebat seluruh perahu pasukannya.
Dalam kasus Baygon, alih - alih membuat produk baru yang jauh lebih sulit dikembangkan atau membutuhkan biaya besar, justru diakali dengan masalah sepele. Yaitu memodifikasi ukuran nozzle atau ukuran lubang semprotannya. Dengan membuat nozzle lebih besar atau lebih pintarnya, dibuat menjadi dua atau double nozzle dan menamainya sebagai teknologi. Pendapatan penjualan meningkat karena isi dari produk jadi lebih cepat habis dari biasanya. Atau secara tidak langsung, konsumen dibuat boros dengan sengaja. Ide simpel yang muncul karena melihat wanita menyemprot dengan sembrono.
Seorang Kong Ming dan Si Mas riset produk memiliki kesamaan. Semua muncul dari satu perilaku, observasi. Dilakukan secara internal maupun eksternal. Mereka memiliki fungsi yang sama, memantau lalu menghasilkan kesimpulan. Saya pikir, untuk menjadi seorang Kong Ming, adalah menjadi bijak disatu titik, lalu akan selalu bijak dan tidak menemukan celah ketidak bijaksanaan. Karena ia seperti batu loncatan, yang setelah dilewati tidak perlu diloncati kembali di belakang dan bisa terus maju.
Tapi kekalahan Kong Ming pada perang Jieting yang jadi awal kekalahan Northern Expedition mengisyaratkan dia tetap manusia yang bisa kalah. Baygon perlu ide super luar biasa setelah mentok dengan inovasinya yang justru menemukan celah mentok yang lain. Ki Ageng benar, hal ini juga mulur mungkret. Baik hal besar maupun hal kecil, dua-duanya punya siklus sebentar senang, sebentar susah. Sebentar berhasil, sebentar gagal. Sebentar hidup, sebentar mati. Ia adalah kumpulan tindakan - tindakan kecil yang membesar lalu menjadi kesimpulan. Lalu aku setuju dengan kesimpulan beliau, bahwa kebijaksanaan adalah pertarungan setiap hari. Jadi setidaknya, aku bisa sedikit bernafas agak lega, kalau - kalau hari ini aku kalah. Moga ke depannya membaik.
Hari sedang tak tentu arah. Kadang ia panas, kadang ia tak berkalor. Ketidaksepemahaman antara pengetahuan dan pola cuaca membuat beberapa khalayak justru gemar beristirahat. Hal ini bersebab cuaca yang terlampau cepat berubah dirasakan sulit oleh tubuh untuk disesuaikan. Alih - alih beradaptasi, ia malahan melemah dan minta dibubukan saja.
Jadi, benar memang musim sakit muncul dari panas dan dingin. Lalu diantaranya ada meriang dan parasertamol.
Dalam kesendirian, sekarang saya ngerti. Ketiadaan siapapun yang menemani membuat saya berpikir bahwa hidup harus dijalani sendiri. Dengan pemahaman demikian, yang terjadi adalah reaksi saya terhadap kehadiran orang menjadi sangat tidak menyenangkan. Tiada gangguan diluar kendali, ktidakperluan untuk berbasa basi, fokus pada sesuatu yang kita kejar, dan segala hal yang hanya bisa dilakukan dikala sendiri.
Namun dunia ini sebenernya sudah saya coba untuk tinggalkan. Begitu banyak efek buruk yang ditimbulkan dari dunia dimana semua hanya tentang saya. Menyakiti orang terdekat, menggampang masalah, merasa besar, merasa dibutuhkan dan hal hal yang tidak akan baik kedepannya.
Sekarang saya ngerti, kenapa mereka yang merasa kuat, menjadi sangat iritable. Karena dalam hatinya, ia berusaha berteman dengan sepi. Menikmati kesedihan dan kesepiannya menjadi teman yang selalu ada. Ketertutupanya pada dunia ia jadikan sebagai tameng untuk selalu siap berlawanan dengan yang hadir. Ketiadaan kehadiran orang - orang yang dibutuhkan membuatnya selalu mode siaga saat ada orang disekitar. Dan segala hal menjadi sangat lambat. Menjadi sangat lambat sehingga ia sadar bahwa ketiadaan dia tidak bermakna untuk siapapun. Tapi ia tau, mati bukan pilihan dan bertahan hidup dari orang - orang keras adalah cara terbaiknya.
Sekarang saya paham, berteman dengan kesendirian dan tenggelam dengan kesendirian merupakan 2 hal yang berbeda. Dan saya berada diantara keduanya saat ini. Tapi saya sadar, mungkin pikiran ini hanya hadir hari ini. Dan segala akan membaik. Tapi saya biarkan perasaan kusut ini menjadi apa adanya. Sehingga saya tau, bahwa tenggelam dalam kesendirian, hanya akan mengembalikan masa lalu ke masa kini.
Bagaimana Jika?
Ada hari dimana selepas pulang dari pasar, saya mempersiapkan diri menuju ke kafe. Buah dan rempah yang diperoleh, dibersihkan dan diramu serta dirapihkan ke dalam toples - toples besar yang bagus. Sembari menyiapkan racikan, saya mulai memasak air dan menyiapkan es batu juga. Ga perlu lama - lama karena stok hari itu masih tergolong aman.
Lalu di sore hari, mulai bukalah kafenya. Saya stay di bar dengan shacker dan gelas. Sembari memperhatikan tiap pesanan yang masuk. Ada yang pesan minuman based tea, ada yang cocktail, lalu ada juga berdasar rempah. Padat, tapi mengalir. Seru juga, pikir saya. Sambil bikin minum, sambil ngobrol dan kasih services yang menyenangkan untuk customer, Saya saya suka kemungkinan itu ada.
Bagaimana Jika?
Ada dunia dimana saya berada dalam kesatauan polisi sebagai Psikolog Forensik. Dimana setiap harinya, ada berbagai kasus abnormalitas pelaku maupu tersangka tindak kriminal. Memiliki jadwal untuk bersaksi dihadapan sidang untuk beberapa minggu kedepan. Lalu asesmen beberapa narapidana untuk penyidikan lebih lanjut terkait kasus lanjutan.
Pulang malam tiap hari dengan status jam kerja lapangan. Namun kehidupannya tidak pernah sepi dari cerita. Berputar dengan kasus-kasus membuatnya paham tingkah - tingkah nirwajar disekitarnya.
Akankah menyenangkan? Tiada tau, namun aku selalu suka kemungkinannya.
Saya selalu yakin bahwasannya, setiap orang punya rasa sakitnya masing - masing. Pengalaman yang mengajarkan diri untuk bertindak sesuai yang didapat. Pengalaman ini datang dari masa kecil. Yang ia lalu tumbuh menjadi mesin yang memilih. Apa apa saja yang perlu dilakukan, diinginkan dan dibuang.
Tak banyak yang menyadari, bahwa dari kesemua tindakanya berasal dari masa lalunya yang menyakitkan. Yang ia tumbuh untuk sekedar membalas masa lalu. Dan kemudian terus mengeras, menjadi karakter. Yang dimana ia tak pernah melihat itu sebagai kesalahan. Dan memang sedari lahir, ia lah begitu.
Tapi setidaknya saya menyadari ia. Kesadaran akan pengembalian hal - hal yang benar. Agar supaya saya menjadi pribadi yang berdikari. Lalu kehadirannya menyejukan minimal untuk orang terdekat.
Saya akan menyerah. Saya walau akan menjadi apa apa, tak ayal nirkuasa terhadap ia. Ia bukan membutuhkan semua yang perlu. Tapi semua yang ia mau. Lalu aku hanya dibutuhkannya untuk validasi. Lalu aku hanya dibutuhkannya untuk keinginan dan kesenangan akan masa lalunya yang tak pernah ia raih. Saat penolakan, pengajaran dan nasiha terbaik diberikan, ia tak butuh. Ia benci akan hal itu.
Ya saya menyerah, hidupmu milikmu. Saya akan sepakat untuk tidak sepakat. Bahwasannya, kamu belum selesai. Dan saya tidak akan melakukan apapun untuk itu.
Sudah seminggu ini saya cukup rajin berolahraga. Walau makan masih kacau, setidaknya sudah ada progress yang membaik. Salah satu motivasi saya berolahraga memang ingin sehat. Tapi keinginan terdalamnya? saya ingin keliatan bagus saat "naked". Akan sangat panas dan membanggakan bisa terlihat atraktif disaat kamu tidak pakai apa - apa sekalipun. Ya mari berprogress
Dalam alat tes bernama Saboteur, akan terlihat sifat - sifat apa saja yang menyabotase diri. Ada banyak hal yang membuat diri kita tidak bergerak. Dan dari kesemuanya bisa dibedah dan diubah. Hanya saja untuk mecapai itu, diperlukan kesadaran diri yang tinggi. Dan untuk mengubahnya, perlu banyak perjanjian-perjanjian baru.
Agar saya tidak lagi disabotase oleh siapapun.
Akhir akhir ini sepertinya banyak hal - hal kecil yang sebenernya tidak perlu jadi masalah. Entah darimana dan siapa masalahnya, yang pasti apapun itu, yang dilihat adalah bagaimana menanggapinya. Beberapa kali saya memang berpikir, bahwa perempuan cenderung enteng untuk ngomong. Sehingga kerap kali ga sadar kalau yang dia bilang nyakitin. Akan beda cerita kalau saya yang bilang gitu. Pasti akan menimbulkan pertengkaran. Tapi mungkin begitulah hidup.
Karena kalau dipikir-pikir, saya sama dia banyak bedanya. Dari mulai cara pandang, pengalaman, preferensi, selera dsb. Tapi, perbedaan itu justru yang membuat ikatan antara saya dan dia terus berjalan. Kadang pernah terpikir, kalau dan seandainya persamaan kita lebih banyak daripada perbedaan, apa tetap langgeng? lebih baik atau lebih buruk?
Entahlah, yang pasti, setiap berantem saya yakin dan tau, bahwa kita hany perlu bicara baik - baik sambil saling berpelukan. Dan semoga semua akan tetap seperti itu. Saling menjadi tenaga untuk terus melaju apapun itu.
Popular Posts
-
Aku takut mati. Sebab takut rasa sakit itu menerkam. Aku takut mati. Sebab tak ayal keinginan hidup belum juga terjamah. Aku takut mati....
-
Guh, ada yang nangis noh penumpang. Sore itu, saya lagi ngurusin data harian yang musti di update tiap pergantian shift. Tiba - tiba ada ...
-
Inget banget siang itu terik sekitar jam setengah 3. Saya baru pulang turun lapangan setelah ambil data selama 2 jam ngobrol bareng narsum. ...
Powered by Blogger.
Blog Archive
- January 2024 (1)
- June 2023 (1)
- March 2023 (1)
- January 2023 (3)
- December 2022 (4)
- November 2022 (1)
- October 2022 (1)
- September 2022 (1)
- August 2022 (10)
- July 2022 (1)
- June 2022 (12)
- May 2022 (5)
- March 2022 (8)
- February 2022 (5)
- January 2022 (3)
- December 2021 (2)
- November 2021 (6)
- October 2021 (8)
- September 2021 (1)
- August 2021 (7)
- July 2021 (1)
- June 2021 (11)
- May 2021 (14)
- April 2021 (16)
- March 2021 (26)
- February 2021 (20)
- January 2021 (26)
















